Saturday, June 17, 2017

Fanfic: Kediaman Heisei ~10 Years JUMP Special Edition~

12:26 AM 0 Comments

Pagi hari di Kediaman Heisei. Sudah hampir delapan tahun rumah besar tersebut dihuni oleh sepuluh orang pria tampan nan menawan tapi bodor kelakuannya. Mereka sudah saling mengenal dari sejak mereka masih kecil, namun mulai tinggal bersama di satu rumah kos yang dikelola oleh keluarga Morimoto ketika empat orang tertua dari kesepuluh pria tersebut baru saja lulus SMA. Keempat orang yang akhirnya akan tinggal mandiri, lepas dari orangtua itu sedang mencari tempat tinggal, ketika akhirnya mereka semua menerima tawaran untuk tinggal di kos milik keluarga Morimoto. Mendengar keempat teman mereka akan tinggal bersama, lima orang sisanya pun jadi tertarik untuk tinggal bersama juga di kos tersebut. Menyusul kemudian anak tertua dari keluarga Morimoto yang saat itu masih SMP, ikut tinggal bersama setelah merengek dan akhirnya diberi izin oleh orangtuanya.

Singkat cerita, Kediaman Heisei menjadi sangat ramai dihuni oleh sepuluh orang dengan karakter yang berbeda-beda. Tidak hanya ramai dengan canda dan tawa yang riang, tidak jarang juga mereka saling adu mulut atau bahkan adu otot hanya karena masalah sepele. Namun, itu semua justru membuat mereka menjadi semakin dekat dan mengerti satu sama lain. Mereka tak ubah layaknya sebuah keluarga besar.

Seperti cerita terdahulu, pagi ini pun Kediaman Heisei diawali dengan dering jam weker yang sangat berisik dari salah satu kamar penghuninya.

KRIIIIIIING KRIIIIIIIIING KRIIIIIIIING

"Buset dah Keito!! Jam weker lo berisik banget! Gue masih ngantuk ini!!"

"Iya, Yuya. Maaf, maaf. Kalau nggak begini, gue susah bangun soalnya."

--------------------------PAUSE--------------------------

Keito Okamoto. Cowok yang jago bahasa Inggris ini akhirnya memilih untuk menjadi guru bahasa Inggris di salah satu sekolah elit khusus perempuan di Shinawaga. Bentuk tubuhnya yang sempurna dengan otot-ototnya dan parasnya yang tampan, membuatnya menjadi salah satu guru terfavorit di antara siswi-siswi sekolah tersebut.

Yuya Takaki. Setelah beberapa tahun kerja serabutan sebagai part timer di berbagai toko, kini Takaki sudah memiliki pekerjaan tetap, yaitu sebagai bartender di sebuah bar yang terletak di Yokohama. Memang bisa dibilang jauh dari Tokyo, namun karena sudah terlanjur nyaman tinggal di Kediaman Heisei, Takaki rela pulang pergi Tokyo - Yokohama.

---------------------------PLAY--------------------------

Hari Senin, awal dari kegiatan seminggu ke depan. Okamoto bergegas menuju westafel. Pagi yang damai jika dibandingkan dengan masa-masa sekolah yang selalu penuh keramaian karena berebut toilet dan westafel. Kini mereka semua sudah terjun ke masyarakat dan memiliki waktu bekerja yang berbeda-beda. Seusai Okamoto bersiap-siap untuk berangkat mengajar, ia menuju ruang makan. Di sana sudah ada Chinen yang sedang menyantap sarapannya dan Yamada sedang memasak di dapur tak jauh dari ruang makan.

"Pagi Pak Guru!"

"Oh Keito, pagi! Nasi atau roti?"

--------------------------PAUSE--------------------------

Yuri Chinen. Cowok yang dulunya sangat dimanja oleh para penghuni Kediaman Heisei ini sekarang sudah tumbuh menjadi seorang pria cerdas dan sosok yang paling bisa diandalkan oleh teman-temannya. Chinen memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya di sebuah perusahaan besar, ia membuka usaha kedai di daerah Nakano bersama dengan Yamada.

Ryosuke Yamada. Dengan kemampuan memasaknya yang mumpuni, segera setelah modalnya terkumpul, Yamada membuka sebuah kedai bersama Chinen di daerah Shinbashi yang terkenal sebagai kotanya salaryman. Kedainya selalu ramai oleh pegawai swasta terutama pada jam makan siang. Namun pada hari Sabtu, terkadang kedainya ini justru ramai dengan wanita. Sampai detik ini, Yamada masih tidak mengerti dengan fenomena tersebut.

---------------------------PLAY--------------------------

"Ada lauk apa?" Tanya Okamoto sambil mengintip ke dapur, penasaran dengan masakan temannya hari ini.

"Yakisaba!" Alih-alih sang koki, Chinen lah yang menjawab pertanyaan Okamoto dengan semangat. "Tadi di pasar lagi ada ikan saba murah. Jadi kita memutuskan menu higawari* hari ini adalah yakisaba, sekalian untuk sarapan."

Mendengar jawaban dari Chinen dan mencium wangi yakisaba yang lezat, Okamoto menuju panci miso shiru untuk melihat isinya. Wakame dan tahu. Perfect! Lantas ia tersenyum ke sang koki, "Nasi!"

"Oke! Gue siapin ikannya.", balas Yamada sambil menyiapkan ikan panggang untuk Okamoto. Sedangkan Okamoto segera mengambil nasi dan miso shiru lalu membawanya ke meja makan. Di saat itu lah, terdengar gemuruh dari lantai atas.

"PAGI SEMUANYAAAAAA!!!"

"Pagi-pagi gini semangat amat sih lu!"

"Yuto, plis. Masih pagi. Gue nggak mau ya pagi-pagi gini udah ada tetangga yang protes karena lu berisik."

--------------------------PAUSE--------------------------

Yuto Nakajima. Cowok kelewat jangkung yang dianugerahi dengan paras menawan itu kini sukses menapaki dunia model, walau masih sebatas sebagai Dokumo (Dokusha Model; model yang muncul di majalah sebagai pembaca). Namun belakangan ini,tidak hanya di majalah fashion khusus pria, Nakajima mulai muncul sebagai model pria di beberapa majalah fashion wanita.

Hikaru Yaotome. Si mood maker. Fakta ini tidak berubah sedikit pun dari masih sekolah dulu. Yaotome selalu sanggup membuat keadaan rumah menjadi ceria. Cowok pecinta musik ini sekarang bekerja sebagai pegawai di salah satu toko musik di Shibuya.

Kei Inoo. Setelah lulus dari jurusan arsitektur Universitas Meiji, Inoo bekerja di sebuah perusahaan konsultasi desain bangunan dan interior. Tahun-tahun awal bekerja, cukup membuat suasana Kediaman Heisei menjadi agak suram karena stress yang dibawa oleh Inoo dari kantor. Belakangan ini akhirnya ia mulai bisa mengatur jadwalnya yang membuatnya kembali menjadi Inoo yang asbun dan aneh.

---------------------------PLAY--------------------------

"Benar kata Inoo-chan. Apalagi sekarang Yuya sedang tidur—"

BRAK! Belum selesai Okamoto berbicara, pintu kamar Takaki terbuka kasar. "Siapa lagi tadi itu suaranya kenceng banget." Si empunya kamar keluar dengan muka kusut. "Ni rumah nggak bisa biarin gue tidur dengan nyenyak apa ya." Sembari merengut, Takaki ikut bergabung di meja makan. Melihat teman-temannya sarapan dengan lahap, membuat perut Takaki keroncongan. Yamada dengan sigap segera menghampiri Takaki, menyiapkan sarapan untuknya.

"Maaf ya Takaki-kun. Gue terlalu bersemangat karena akhirnya bisa kerja bareng model terkenal hari ini." Nakajima yang akhirnya menyadari kalau volume suara yang ia keluarkan terlalu besar merengut karena diomeli dua orang, Inoo dan Takaki.

"Model siapa?" Tanya Hikaru penasaran.

"Airi Suzuki! Hari ini ada pemotretan dari majalah Ray edisi spesial kencan musim panas!!" Ujar Nakajima semangat, kembali mengeluarkan volume suaranya yang besar. Pairing lama bersemi kembali ihiy~ Mari lupakan Fuma untuk sejenak~

Hikaru hampir saja tersedak mendengarnya. "Yang jago nyanyi itu kan? Bikin sirik aja... Enaknya yang model..." Nakajima nyengir bahagia.

Begini lah pagi hari di Kediaman Heisei. Tidak seramai ketika mereka masih sekolah, namun suasana hangat masih tetap berada di sana. Tujuh orang itu asik mengobrol sembari menikmati sarapan pagi. Masing-masing menceritakan kehidupan mereka seperti senior di kantor yang menyebalkan atau pelanggan yang terlalu berisik. Tak lama berselang, kembali terdengar suara langkah kaki dari lantai atas.

"Yabu-kun makan apa sih kok bisa bikin lirik sebagus ini..."

"Menu makan kita sama aja lho Ryu."

--------------------------PAUSE--------------------------

Ryutaro Morimoto. Si bungsu. Bocah SMP yang dulu memohon-mohon untuk tinggal terpisah dari orangtua dan memilih untuk bersama dengan teman-temannya di Kediaman Heisei ini, kini sudah tumbuh menjadi seorang pemusik muda. Ia membentuk sebuah band bersama teman-temannya semasa SMA. Saat ini band tersebut sudah menelurkan tiga single dan satu album. Selain itu, kini ia juga membantu orangtuanya mengurus Kediaman Heisei.

Kouta Yabu. Sang kepala suku. Menyandang gelar sebagai penghuni tertua di Kediaman Heisei. Yabu selalu bersikap dengan kepala dingin di awal-awal ia mulai tinggal bersama teman-temannya rumah besar ini karena ia merasa bertanggung jawab sebagai penghuni yang paling dewasa. Namun semakin lama ia bersama kesembilan penghuni lainnya, Yabu justru mulai memperlihatkan dirinya yang sebenarnya. Sedikit ceroboh dan kekanak-kanakan. Yabu kini bekerja sebagai penulis lirik dan penyiar radio. KNamun, kepada penghuni yang lain, ia menyembunyikan pekerjaannya sebagai penyiar radio.

---------------------------PLAY--------------------------

"Tapi hasilnya bisa beda banget ya..." Ryutaro menghela napasnya. "Kalau begitu, Yabu-kun suka baca buku apa aja sih? Siapa tau bisa jadi referensi." Tanya Morimoto semangat. Kalau mengenai band dan musik, Morimoto yang biasanya tidak bisa serius itu, bisa menjadi seserius Inoo ketika sedang mengerjakan denah rumah.

Yabu segera duduk di tempatnya begitu sampai meja makan. Morimoto mengekor dan sempat memandang sekeliling sebelum duduk. Lantas tersenyum. "Pas banget semuanya lagi ngumpul begini." Morimoto mengeluarkan sesuatu dari kantong tasnya. "Tiket live band gue hari Minggu ini. Kalau bisa pada dateng ya!" Ujarnya sembari membagikan tiket kepada para penghuni yang ada di ruang makan saat itu. Ng? Kok lebih satu tiketnya?

Morimoto kembali memandangi satu-persatu teman-temannya. Yabu-kun, Hikaru-kun, Yuto-kun, Chinen-kun, Keito-kun, Yamada-kun, Takaki-kun, Inoo-kun. Kurang satu.

"Dai-chan mana?"

Kedelapan entitas yang berkumpul di meja itu memandangi Morimoto. Tanpa aba-aba, mereka semua kompak menunjuk ke lantai atas. "Paling masih tidur kan?" Yamada mengeluarkan suaranya.

--------------------------PAUSE--------------------------

Daiki Arioka. Si kebo. Tak jauh beda dengan Yaotome, Arioka juga tidak berubah sedikit pun dari masa sekolah dulu. Masih sulit bangun pagi. Partner in crime Yaotome. Sampai saat ini pun, di usianya yang sudah memasuki silver age, Arioka dan Yaotome masih suka iseng di rumah. Pekerjaannya sekarang adalah disk jockey di sebuah klub di daerah Harajuku.

---------------------------PLAY--------------------------

Kesembilan orang itu memandang langit-langit, membayangkan Arioka yang sedang tertidur pulas saat ini. Yah, kalau mengenai betapa kebluknya seorang Daiki Arioka sih mereka semua sudah paham, atau mungkin lebih tepatnya "pasrah".

"Bukannya hari Minggu Dai-chan nggak ada jadwal show ya?" Tanya Morimoto heran. Sudah umur segitu, tetap saja tidak bisa bangun pagi.

"Katanya kemarin dia menggantikan temannya yang tidak bisa tampil. Jadi ya, mungkin dia baru tidur beberapa jam yang lalu." Jawab Inoo. "Gochisousama! Gue duluan yak."

BUK!!

Kesembilan orang itu kembali melihat langit-langit. Lalu saling melempar pandang satu sama lain. Pasti Dai-chan baru saja terjatuh dari tempat tidur, pikir mereka.

"Un! Ittekimasu!" Inoo kembali membuka suaranya, mengabaikan suara asing yang terdengar dari lantai atas seraya meraih tasnya dan menuju genkan (pintu depan), disusul oleh teman-temannya yang lain yang juga harus berangkat bekerja.

"Daiki biar gue yang urus deh. Sekalian tuh, piring kotor juga." Ujar Takaki ke Yamada dan Chinen yang masih berada di ruang makan. "Nanti telat siap-siap buka kedainya lho." Lanjutnya lagi.

"Makasih yak!" Ucap Yamada sambil menepuk pundak Takaki, kemudian bersiap berangkat ke kedainya.

Takaki memandangi meja makan yang penuh dengan piring kotor dan Ryutaro yang masih asik mengunyah rotinya. "Buruan makannya. Mau gue beresin nih, terus lanjut tidur lagi." Ujarnya dengan nada sok ngebos.

Morimoto mencibur mendengarnya. "Nanti gue beresin sendiri aja."

Takaki hanya membalas dengan anggukan. Ia pun mulai membereskan piring-piring kotor tersebut dan mencucinya.

Satu lagi pagi yang damai berlalu di Kediaman Heisei. Hari-hari menghebohkan nan damai seperti apa lagi yang akan dilalui oleh para pennghuni Kediaman Heisi? Nantikan di cerita-cerita selanjutnya, khusus untuk memperingati sepuluh tahun debut Hey! Say! JUMP.

PS: Mari berdoa semoga bocah panda nggak mendadak kena writer's block.

*Menu higawari: Menu makan siang khusus di hari itu. Biasanya jauh lebih murah dibanding menu normal.

Monday, June 12, 2017

Bocah Panda dan Hello! Project

1:26 AM 0 Comments

Salah satu fandom terbesar gue adalah Hello! Project. Udah suka banget dari masih bocah smp, sampai udah lewat silver age kayak gini. Dan yang pasti belum akan berhenti menjadi penggemar.

Pertemuan pertama dengan Hello! Project itu di majalah Anima yang gue lupa edisi kapan, yang pasti cover depannya Shaman King dan cover belakangnya Morning Musume. Waktu itu pinjem dari temen karena mau copy lirik-lirik lagu Shaman King, lalu iseng baca artikel-artikel yang ada. Salah satunya artikel tentang Morning Musume. Sekali baca, gue langsung tertarik dengan grup ini karena dari yang gue baca di artikel tersebut Morning Musume ini awalnya merupakan kumpulan dari orang-orang yang gagal audisi. Mereka dikumpulkan dan diberi kesempatan untuk debut dengan syarat harus bisa menjual 50000 keping dalam waktu 5 hari. Hebatnya mereka berhasil menjual cd 50000 keping hanya dalam waktu 5 hari! Dan lebih hebatnya lagi, mereka menjadi legenda idol Jepang!! Kebayang kan dari yang gagal audisi, malah jadi jauh lebih hebat lagi dari yang lolos audisi.


Mulai saat itu, setiap baca majalah, pasti bakal nyari-nyari berita mengenai Hello! Project. Saat itu gue masih belum kenal internet. Plis lah, kelas 2 SMP, kudet, miskin pula. Nggak ada kesempatan sama sekali buat mengenal internet. Warnet terdekat pun adanya di dalam mall dekat sekolah. Itu pun satu jamnya 7000 Rupiah. Mahal banget kan? Dulu di Animonster ada kolom yang memperkenalkan beberapa website yang berguna untuk para pembacanya. Pengen banget browsing itu semua tapi nggak sanggup =((

Dari SMP itu, gue jadi seorang penggemar Hello! Project yang sama sekali belum pernah dengar satu pun lagu-lagunya. Kelas 2 SMA, baru lah untuk pertama kalinya gue bisa dengar lagu Hello! Project. Itu pun cuma satu lagu. Sebuah keajaiban, ada satu lagu Maki Goto yang nyasar di kumpulan lagu-lagu J-Rock di komputer temen gue. Genshoku Gal wa Hade ni Ikube! Lagu Hello! Project pertama. Heeee, suara Gomaki kayak gini toh! Itu lah kesan pertama gue karena akhirnya gue bisa juga dengernya walaupun cuma satu lagu. Nggak lama kemudian, pas lagi jalan-jalan ke mall, eh nemu toko yang menjual barang-barang hobi jejepangan. Di situ gue beli DVD konser The BEST of Japan Natsu ~ Aki '04. Kembali, untuk pertama kalinya gue bisa mendengar lagu-lagu Morning Musume, dan juga untuk pertama kalinya menonton konser mereka. Kesan pertama gue? MEREKA KEREN BANGET NARINYAAAA!! KONKON KAWAII! MIKITTY SUARANYA BENERAN OKE BANGET! MARIPPE ASLI BANGET KECILNYA! Heboh deh pokoknya =))

Pas SMA itu juga, gue baru bisa masuk ke dunia maya. Jaman di mana warnet akhirnya jadi 3000 Rupiah per jam. Selain itu, di rumah juga akhirnya dipasang koneksi internet! Alhasil berantem terus setiap bulan karena tagihan telepon yang membengkak, karena gue kerjaannya nonton Youtube mulu. Abis itu baru deh, mulai download macem-macem. Single, album, PV, DVD, poto-poto, semua yang bisa gue download saat itu, sebisa mungkin harus gue download. Nggak banyak sih. Maklum, bisa dipecat jadi anak nanti kalau download kebanyakan.

Banyak banget yang gue tonton di Youtube saat itu. Berbagai kelakuan absurd Tsuji-Kago misalnya. Berbekas banget di benak gue. Cuma baca artikelnya aja udah bikin gue ngakak-ngakak, apalagi pas beneran ditonton terutama Sayaka's Surprise English Lesson. ASTAGAAAAA!!! Kocak-kocak banget! Harusnya dibikin lagi tuh sekarang! Miki's Surprise English Lesson =))

Selain itu juga pas pertama kalinya gue liat penampakan dari Hello! Project Kids. Astaga, beneran kecil banget yak. Dulu pas SMP cuma baca beritanya. Itu pun kaget banget lah ada yang kelas 1 SD. Pas nonton di salah satu DVD konser, ngakak puas liat Maimai pakai sunglass meuni gede banget. Tahun 2007, Buono! dibentuk. Nggak butuh waktu lama, gue pun jadi penggemar berat trio ini. Selain karena ada Airi, lagu-lagunya yang rada berbeda dengan lagu-lagu Hello! Project kebanyakan, entah kenapa cocok banget di telinga gue. Udah gitu kelakuan mereka tuh beneran ajaib-ajaib banget! MUAHAHAHAHAHAHAHAHA


Jadi penggemar Hello! Project itu menyenangkan. Di masa kejayaannya. Gue seneng banget kalo udah baca berita-berita tentang Hello! Project. Entah itu kelulusan, angkatan baru, rekor penjualan baru, Kohaku, penghargaan. Rasanya bangga gitu jadi penggemar mereka. Tapi itu nggak berlangsung lama. Mulai tahun 2007 lah ya, rasanya ada yang aneh. Terutama ketika AKB48 mulai terkenal. Sedih banget rasanya nggak banyak orang yang nggak tau lagi tentang Hello! Project. Bahkan ampe ada yg ngira kalau Morning Musume udah bubar. Jahat ih T____T Yang biasanya konser di Yokoari atau SSA, mendadak jadi hall. S/mileage aja harus cukup puas dengan live house.

Ada saatnya ketika gue benci banget ama AKB48. Alasannya simple, karena mereka merebut spotlight Hello! Project. Padahal membernya aja banyak penggemarnya Hello! Project. Ah, tapi segera disadarkan sih kalau AKB48 sekalipun berjuang keras untuk bisa mencapai titik sekarang.

Nah, satu-satunya group yang merasakan jaman keemasannya Hello! Project, besok akan mengakhiri kegiatan mereka. Senin, 12 Juni, konser terakhir ℃-ute akan digelar. Gue seneng banget di mana-mana dibilangnya grup legendaris, atau idol yang dihormati para idol. Keren banget kan? Tapi tetep aja orang awam mah nggak kenal. Di situ gue bete banget. Udah mana gue nggak bisa nonton konsernya pula. Live viewing sekalipun.


Gue masih nggak terima ℃-ute bubar. Sampai saat ini gue masih berharap ℃-ute bisa jadi kayak Perfume. Sedikit lagi. Mungkin setahun atau dua tahun. Penjualannya mulai naik. Mulai suka tampil di acara-acara musik besar. Reaksi penonton pun bagus-bagus. Mereka juga mulai konser di venue besar. Bubar. Belom waktunya woy!! Keliatan banget kok kalau lima orang itu nggak rela kalau ℃-ute harus bubar.

Kenapa sih? Karena Maimai pulang bareng tetangganya yang kebetulan ketemu di jalan pulang? Karena Airi digosipin ama Fuuma? Karena Chiisa goukon bareng Tsuka-chan? Karena mereka udah cukup tua untuk jadi idol? Kenapa? Kenapa ℃-ute harus idol group? Kalau bukan idol group, mungkin nggak sih besok tuh bukan konser terakhkir? Mungkin nggak sih cuma akan berakhir sekadar sebagai konser pertama ℃-ute di SSA tanpa embel-embel "their very last concert"? Yah, mau gue ngebayangin berbagai macam plot, tetep aja ℃-ute akan bubar.

Tapi gue tetep akan jadi harowota. Nggak ada keinginan untuk berhenti. Walaupun Buono! bubar. Walaupun ℃-ute bubar. Walaupun Country Girls jadi aneh gitu. Masih ada Angerme. Momusu juga, mulai suka tampil di acara musik tahunan. Dua Factory group juga menjanjikan. Juice=Juice, maafkan saya kurang memperhataikan grup ini /plak. Tiga orang Kenshusei yang akan debut juga nggak kalah oke. Selama Hello! Project mau mempromosikan mereka semua, bukan cuma Morning Musume doang, harusnya bisa lah minimal jadi terkenal lagi. Nggak usah muluk-muluk ampe kayak jaman keemasan dulu. Cukup banyak yang kenal dan menjadi penggemar.

Karena Hello! Project itu nggak bisa dipungkiri, merupakan salah satu sejarah penting dalam dunia idol Jepang. Dan masih akan terus menorehkan berbagai mcaam hal lain dalam sejarah tersebut.

Sunday, May 28, 2017

Bocah Panda dan Nippon

12:52 PM 0 Comments

Kyahhooooooo~♪

Kali ini iseng aja sih mau mencoba cerita kisah gue bertemu dengan jurang dunia jejepangan. Nggak gitu ada yang spesial sih, cuma karena lagi kepengen apdet blog tapi nggak ada bahan. Selain itu, karena dari dulu tuh udah kepengen banget sebenernya nulis tentang hal ini. Jadi, nggak usah sok basa-basi, seakan-akan gue jago nulis aja...

Pertemuan pertama gue, mungkin nggak jauh beda dengan anak seumuran gue, yaitu dari kartun-kartun Jepang. Anak-anak yang lahir di tahun akhir 80-an sampai 90-an pasti masa kecilnya akrab banget dengan kartun Jepang. Apalagi di hari Minggu, full dari pagi sampai waktu berita siang, televisi dari channel manapun pasti dipenuhi dengan kartun Jepang. Iya, gue tau kok yang bukan Jepang juga ada kayak Power Puff Girls atau Ben10. Yang kebetulan salty ama anime, nggak usah protes. Udah banyak banget kan ya meme yang ngomongin tentang ini. Jadi, waktu kecil dulu itu kalau mau mandi di hari minggu pilihannya ya antara mandi habis subuh atau setelah dzuhur =)) Selain hari Minggu, sore hari Senin - Jumat pun juga dihiasi dengan kartun Jepang. Salah satu setan bagi anak-anak Muslim untuk pergi mengaji atau shalat magrib =))

Nah, dari sekian banyak kartun Jepang yang tayang di Indonesia dahulu kala, satu kartun yang bikin gue tertarik untuk ke Jepang adalah Digimon Adventure.


Gue masih inget banget pas Digimon tayang di Indosiar itu gue masih kelas 4 SD. Saat itu gue pengen banget ke Odaiba, kota pertama di jepang yang gue tau setelah Tokyo =)) Alasannya? Karena saat itu, perhatikan baik-baik saat kelas 4 SD, gue percaya kalau Digimon itu beneran ada di Jepang dan pintu portal menuju Dunia Digital ada di Odaiba. Gue tau kok kalau kartun berjudul Digimon Adventure itu cuma fiktif belaka, hanya sebuah cerita karangan. Tapi kalau Digimonnya, gue yakin banget kalau makhluk itu tuh beneran ada di Jepang. Karena itu gue pengen banget bisa ke Jepang. Kamu udah 9 tahun tapi kok ya polos banget sih dek, astaga...

Entah kapan gue sadar kalau itu semua, termasuk monster-monsternya, hanya khayalan belaka. Bahkan nggak ada ingatan gue siyok gitu misalnya karena mengetahui kalau Digimon itu nggak ada. Yang tersisa di ingatan gue cuma, kok bisa sih bocah 9 tahun yang harusnya udah bisa bedain mana yang khayalan mana yang beneran, malah percaya kalau Digimon beneran ada di dunia ini =))

Cerita terus bergulir sampai akhirnya si bocah panda masuk SMP. Di sini dia rada susah untuk bergaul karena anak cewek seumurannya itu sewajarnya mulai suka dengan artis-artis yang lagi terkenal dan mulai nggak nonton kartun lagi karena udah masuk masa-masa puberty jadi mulai nggak tertarik lagi dengan kartun. Sedangkan gue? Tetep aja lebih suka nonton kartun dibanding nonton MTV atau drama barat. Diperparah dengan adanya rental komik di dekat SMP. Di saat ini lah, gue mulai sering banget berantem ama si emak karena kerjaan gue cuma baca komik doang dan mulai belajar bahasa Jepang.

Gue mulai belajar bahasa Jepang itu kelas 2 SMP. Pas kelas 2, kebetulan banget satu kelas dengan orang yang sama-sama suka dengan kartun Jepang, bahkan sama-sama suka banget banget banget dengan Digimon! Dan dia ini bener-bener yang rutin baca Animonster dan majalah-majalah jejepangan lainnya. Dia bahkan udah bisa bahasa Jepang! Mulai saat itu, gue akhirnya mengalokasikan duit jajan gue yang biasanya cuma buat beli komik doang, juga untuk membeli Animonster dan kaset-kaset Ayumi Hamasaki. Semenjak dapet lagu-lagu kartun dari si temen itu dan baca-baca majalah, gue jadi suka dengan Ayumi Hamasaki.

Di kaset-kaset Ayumi itu, ada lirik asli yang masih ditulis dengan aksara Jepang. Jadi lah gue beli sebuah buku untuk belajar bahasa Jepang dan sebuah kamus. Selain itu sih sebenernya udah terstimulasi juga karena temen gue itu udah jago aja bahasa Jepangnya... Btw buku yang gue beli itu judulnya Bahasa Jepang untuk Pemula karangan Herpinus Simanjuntak. Harganya murah banget untuk gue yang masih SMP saat itu dan penjelasannya pun sangat mudah dimengerti. Buku ini hanya membahas grammar, jadi untuk belajar aksaranya, gue cari dari sumber lain.

Di kelas 2 SMP ini juga gue bertemu dengan Morning Musume! Waktu itu tuh dipinjemin majalah Anima, mau copy lirik-lirik lagu yang ada di edisi saat itu. Kebetulan ada artikel tentang Morning Musume. Pas baca tentang Morning Musume, gue tertarik dengan bagian "lima orang yang gagal lolos audisi, dikumpulkan dalam satu grup, diberi syarat harus bisa menjual 50000 keping untuk debut, dan jadi jauh lebih sukses dibanding si pemenang audisi". Selain itu jatuh hati dengan Tsuji-Kago setelah baca berbagai kelakuan absurd mereka =)) Dari sini, setiap beli majalah pasti ngecek berita-berita dari Morning Musume atau Hello! Project.


Mari kita kesampingkan dulu kisah indah gue bersama Hello! Project. Niat gue pengen bikin post yang berbeda lagi khusus Hello! Project. Intinya, semenjak pertemuan gue dengan temen di SMP itu bikin dunia gue nggak jauh-jauh dari jejepangan, dan gue jadi semakin mantap dengan tujuan hidup gue untuk jadi penerjemah komik Jepang dan sekolah beasiswa ke Jepang.

Gue mulai serius belajar bahasa Jepang. Grammar, kanji, listening, semuanya gue lakukan secara otodidak. Apalagi semenjak ada koneksi internet di rumah, makin gandrung deh nonton berbagai macam tv show, drama dan film Jepang. Dan gue menemukan cara belajar bahasa paling efektif untuk diri gue yang super pemalas. Menonton. Dengan nonton tv show dan drama, gue bisa dengan mudah menangkap penggunaan partikel-partikel, cara ngomong, penggunaan kosa kata dengan mudah. Gue pribadi sih nggak gitu merekomendasikan kartun, kecuali yang genrenya slice of life, atau yang semacam Meitantei Conan karena bahasa yang dipakai adalah bahasa sehari-hari. Sedangkan kartun sendiri banyak yang masing-masing karakter punya gaya bahasa sendiri yang mungkin kalau baru belajar, bisa-bisa tanpa sengaja kita meniru bahasa karakter-karakter tersebut.

Tapi, belajar bahasa Jepang doang nggak cukup. Yang namanya beasiswa ke Jepang itu susahnya bukan main deh. Ditambah gue males, dan sangat sadar akan kemalasan diri ini separah apa, tapi nggak mau berubah. /plak! Tapi usaha gue harus berhenti karena kalau mau ikut Monbukagakusho, gue harus ngambil jurusan eksak karena di SMA gue penjurusannya IPA. Sedangkan gue pengen menjauh dari yang namanya IPA. Jadi, pas kelas 1 SMA, gue mikirnya kalau masuk IPA nanti pas SMPTN peluang gue lebih besar untuk masuk jurusan apapun. Padahal mah nggak suka banget sama IPA. Hahahahah. Waktu itu juga nggak masuk IPS karena jauh lebih bego lagi kalau disuruh belajar IPS, mending gue ngitung dan main logika daripada main teori nggak pasti.

Skip masalah penjurusan SMA.

Akhirnya setelah lulus SMA, gue masuk jurusan desain grafis. Makin ngaco? YESH! Manusia nggak bisa gambar ditambah nggak kreatif sama sekali bisa-bisanya masuk desain grafis. Waktu itu ada program apa sih namanya itu yang nggak pakai test, jadi rekomendasi gitu dari sekolah, eh nggak nyangka gue yang dapet! Padahal masih banyak yang nilainya jauh di atas gue. Tapi ya gitu deh, emang suka banget sih desain grafis. Berharap bisa belajar web design, eh ternyata desain grafis di PNJ teh bawahannya Teknik Grafika. Percetakan. Ya mana belajar css atau javascript, adanya belajar layout buku dan jenis-jenis kertas. Sampai akhirnya gue memutuskan untuk pindah ke sastra Jepang. Ampe perang lho di rumah cuma karena ginian doang.

Akhirnya tahun 2010, gue resmi menjadi mahasiswi Unsada jurusan sastra Jepang, yang nggak akan pernah gue rekomendasikan ke siapapun yang mau belajar bahasa Jepang. Mau masuk sastra Jepang? Belajar lah yang giat biar bisa masuk UI, Unpad, atau mungkin kalau punya banyak duit, ke Binus aja. Jangan masuk Unsada. Dosennya gede ambek semua~

Nah, setelah masuk sastra Jepang, gue mulai gencar mencari beasiswa ke Jepang. Monbu? Nyerah aja lah ama Monbukagakusho mah~ Entah kenapa, semacam tanggung jawabnya terlalu berat. Jadi nggak tertarik lagi dengan beasiswa beken ini. Tapi pernah sih ikut tesnya. Jadi ada satu dosen yang ngotot gue harus ikut. Padahal nilai-nilai gue nggak memenuhi syarat-syarat untuk dapet surat rekomendasi dari kampus. Tapi si dosen ini ngotot, dan bersedia bikin surat rekomendasi khusus buat gue. Yowes lah, ikutan deh tuh tesnya. Terus? TESNYA NAJIS AMIT-AMIT DEH SUSAHNYA!!! Yakin gue masih jauh lebih gampang N1 dibanding tes Monbu.

Setelah itu, gue liat ada program exchange satu tahun dari universitas apa tuh gue lupa namanya. Pokoknya tempatnya di Kobe. Wah, pas banget gue pun suka dengan Kansai. Eh, apa Osaka yak ==a Daftar deh tuh kan. Nah, untuk pertama kalinya gue merasakan kegagalan sampai busuk-busuknya manusia muncul di otak gue. Bukan masalah gue nggak lolos yang bikin gue nangis parah begitu nyampe rumah dan masuk kamar.

Begini ceritanya, jadi gue dijadiin cadangan. Kalau-kalau yang lolos ini ada masalah yang bikin dia nggak bisa ke Jepang, gue deh yang bakal gantiin. Kesel? IYA LAH! Mending nggak usah lolos sekalian daripada dijadiin cadangan begitu. Tapi yang bikin gue ampe nangis di metro mini itu pemikiran yang muncul di otak gue, "coba tadi gue nggak nelpon dia kalau tes wawancara terakhir diadain sore ini, pasti gue deh yang ke Jepang".

Tes terakhirnya diadain mendadak gitu, beberapa jam setelah tes sebelumnya. Ya gue mah masih ngaso, ngumpul-ngumpul gejeh ama temen di kantin. Sedangkan dia bahkan udah nyantai-nyantai di rumah yang notabenenya jauh banget dari kampus. Setelah denger kalau tesnya bakal diadain beberapa jam lagi, gue dan temen-temen gue sibuk deh hubungi dia berbagai cara karena dia kan udah di rumah. Mana tau kan kalau tes selanjutnya tuh bakal diadain beberapa jam lagi. Nah, yang akhirnya berhasil menghubungi dia tuh gue. Bisa-bisanya gue mikir, "kalau gue nggak nelpon dia pasti gue yang dapet beasiswanya". Cuma karena nggak dapet beasiswa ke Jepang? Sumpah, jahat banget. Busuk banget pemikiran gue itu. Pas sadar, gue udah nangis di metro mini. Untung sepi penumpang ya astaga... Padahal mah emang karena bukan rejeki. Beasiswa itu bukan jalan hidup gue.

Hebatnya, sesampainya di rumah setelah shalat, pikiran gue kayak dibuka gitu. Hidup gue yang selama ini mengejar-ngejar Jepang, jadi lebih ringan. Gue udah nggak peduli lagi dengan Jepang. Tujuan hidup gue berubah, gue cuma mau bahagia. Di mana pun gue berada, apa pun yang gue lakukan, gue harus bahagia. Nggak ada lagi ambisi-ambisi aneh yang membebani hidup gue. Yah, tipikal pembelaan orang-orang gagal dalam hidup sih. Tapi beneran jadi enteng banget lho hidup gue. Gue udah nggak lagi ngeliat ke atas. Gue cuma liat ke depan. Apa pun yang ada di depan gue, bakal gue terima dengan lapang dada. Gue berubah menjadi seseorang yang lebih mudah bersyukur dalam berbagai keadaan. Dan gue puas dengan hal itu.

Jepang? Kumpulin duit aja lah buat kapan-kapan wisata ke sana =))

Setelah itu gue cuma ikut berbagai macam program magang demi memperindah CV dan fokus ke skripsi, sampai suatu ketika ada program magang IT ke Jepang. WAU! Udah gue bilang kan ya kalau gue suka web design? Daftar deh tuh gue. Saat itu gue lagi magang di sebuah pabrik kamera Jepang. Minta liburnya rempong demi haha. Tapi akhirnya gue ikut wawancara. Dan voila!! GUE LOLOS PROGRAM MAGANG TERSEBUT!!!! Lucu kan yang namanya hidup? Ketika lo udah menyerah akan sesuatu, lo baru dikasih izin untuk mendapatkan hal itu. Iza mairu! Chika in Japan!!!

Setibanya di Jepang tuh bener-bener nggak nyangka banget. Orang bloon super pemalas kayak gue akhirnya bisa sampai di tanah suci bagi para otaku di seluruh dunia. Bahkan tanpa mengeluarkan modal sedikitpun. Program magangnya pun menyenangkan karena magangnya ini bukan kerja. Tapi belajar pemrograman yang sedikitnya gue udah kenal. Udah gitu bosnya tuh baik banget. Super duper pelit, tapi baik. Kita diajak jalan kesana-kemari. Pas makan siang ditraktir sushi. Yang kemudian diketahui kalau itu tuh termasuk murah banget haha. Dan yang paling nggak disangka-sangka adalah, gue ditawari untuk bekerja di perusahaan tersebut.

WAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAAWAWAAAAAAAA

Kapan lagi lo bisa kerja di Jepang, dengan bos super baik (walaupun kepala batu dan nyebelin banget), udah gitu bisa dengan leluasa shalat tanpa perlu tatapan aneh dari orang-orang di kantor karena pegawai-pegawainya pun nggak ada yang mempermasalahkan. Singkat cerita, ya di sini gue sekarang. Di sebuah kamar kecil di bilangan Kawasaki, Jepang. Hobi yang dulu selalu sukses bikin gue berantem dengan emak, bahkan bikin perang besar di rumah, bisa berakhir dengan indah. Yah, yang namanya hidup nggak ada yang tau sih ke depannya bakal kayak gimana. Walau terkadang empet juga ngoding mulu, tapi bisa dibilang gue puas dengan hidup gue sekarang.

Wau, jadi panjang banget gini =)) Hidup gue nggak bisa dijadiin contoh sih. Yah kerjaan gue cuma baca komik dan fangirling. Pas sekolah pun belajar ya kalau mau ada ulangan doang. Bahkan gue nggak yakin ada yang baca post ini hahahaha
  • ずっと忘れないよいつだって 同じ空を見上げたなら繋がってる 強い絆はこんな雨には流せない
  • 明日はきっと今日より輝くよ
  • 10年前の僕よりもっと君を笑顔にさせてみせるから
  • 君と歌おう タビダチの歌 こわがらないで歩いて行こう