Anime! Bukan Kartun!


こんばんちわ♪

Abis liat-liat sebuah postingan di Facebook, dan kembali ada yang ngotot nggak terima kalau kartun dan anime itu sama. Kartun itu animasi barat! Anime itu animasi Jepang! Ya Tuhanku.....

Gue tau kok kalau sekarang ini sudah terjadi penyempitan makna untuk kosa kata anime. Sekarang ini udah umum pengertian anime itu ya berarti animasi produksi Jepang. Gue ga akan menyangkal hal tersebut. Yang pengen gue bahas adalah orang-orang yang ngotot kartun dan anime itu berbeda. Bilang aja sih lu nggak mau, alias nggak sudi anime disamain levelnya dengan kartun barat yang identik dengan Disney atau kartun animasi anak. Anime is laf! Anime is laif!

Pertama-tama, gue nggak bilang kalau tulisan gue ini udah pasti bener. Gue cuma mau jelasin, kenapa kartun dan anime itu sama aja menurut pemahaman gue selama kuliah sastra Jepang dan deain grafis yang hanya sebentaaaaaar banget. Seenggaknya, gue ada sedikit ngebuka Wikipedia, kamus Oxford dan KBBI pastinya.

Jadi begini kawan, ada yang berargumen "kalau animasi dan kartun itu sama kenapa kok orang Jepang nggak ngambil dari kosa kata cartoon tapi malah makenya kosa kata animation?" Ya karena emang kartun dan animasi adalah dua hal yang berbeda.

Pertama-tama, coba kita lihat kosa kata kartun, dalam bahasa Inggris ditulis dengan cartoon. Kartun pada dasarnya adalah sebuah ilustrasi yang lucu (dalam arti membuat tertawa, bukan imut atau unyu). Mau tau kartun itu yang kayak gimana? Ilustrasi-ilustrasi yang sering dimuat di koran untuk mengkritik pemerintah contohnya. Itu disebut kartun.

Kalau kita lihat pengertian cartoon di kamus Oxford, ada beberapa pengertian di sana. Yang pertama, pengertian seperti yang sudah gue jelaskan di atas. Ilustrasi humor, terutama sindiran sarkas yang dimuat di koran.

Pengertian yang lain adalah film yang menggunakan teknik animasi. Bisa disebut juga dengan animated cartoon. Di Wikipedia bisa diliat pada bagian animation. Nah, gambar kartun yang dirangkai sedemikian rupa dengan urut agar tampak seakan-akan gambar tersebut bergerak. Ini lah yang disebut dengan animasi. Yang kemudian lebih sering disebut dengan cartoon saja, karena animated cartoon atau kartun animasi itu kepanjangan broh.

Udah jelas belom nih ya? Kartun adalah gambar dua dimensi. Biasanya memiliki humor yang bersifat satir. Sedangkan animasi adalah gambar dua dimensi yang bergerak. Bisa disebut juga dengan film animasi.

Masih mau nanya juga kenapa bahasa Jepang ngambilnya dari kata animation, bukan cartoon? Terlalu... Anime itu gambar bergerak kan ya? Jadinya ya mereka ngambilnya kosa kata animation. Dalam pelafalan bahasa Jepang, jadinya animeeshon. Disingkat anime.

Ada lagi yang memberi teori paling absurd yang pernah gue baca selama ini. Cartoon adalah gabungan dari dua kata, yaitu character dan toon.

Boleh nangis?

Gue nggak tau dia dapet ide dari mana kok bisa-bisanya mikir ke sana. Cartoon adalah satu kata tunggal. Bukan gabungan dari dua kata. Sedangkan kosa kata toon itu adalah kata informal dari cartoon. Nggak percaya? Silakan gugling. Kurang percaya Google? Atau mungkin boleh gue bilang, kurang bisa mencari informasi yang pasti di Google? Ke perpustakaan gih sono! Cari sumber tulisan yang mengatakan kalau cartoon adalah singkatan dari kata character dan toon. Semoga ketemu.

Honestly, selama ini gue selalu merujuk kosa kata anime as in Japanese. Mungkin bisa dibilang kayak gini, anime dalam bahasa Jepang artinya adalah film animasi secara keseluruhan. Persetan itu produksi mana, selama itu adalah gambar yang bergerak, 2D atau 3D, disebut dengan anime. Sedangkan di jaman now ini, anime sudah masuk ke dalam kosa kata bahasa Inggris yang memiliki arti animasi dengan style gambar ala komik Jepang atau produksi Jepang.

Oh, plis, jangan paksa gue jelasin kalau komik dan manga itu sama aja. Kaga ada bedanya. Cuma beda bahasa doang. Plis, yang masih ngotot komik dan manga itu beda, loncat gih ke laut. Tenggelamkan dirimu sendiri tanpa harus disuruh Bu Susi.

Terus ya, yang pada suka banget berdebat membandingkan dengan bahasa Inggris. Meanwhile kita teh ngomongnya pakai bahasa Indonesia. Nggak ada kah yang mau mengakui kalau kartun dalam bahasa Indonesia bisa merujuk juga kepada film kartun seperti layaknya kartun animasi? Kalau udah kayak gini nggak salah dong kalau ada yang menyebut anime sebagai kartun. Ya anime kan gambar bergerak. Ya emang film kartun.....

Okeh, gue nggak tau gimana cara jelasinnya lagi biar mudah dimengerti.

Gue pun, yang sebegitunya ngotot kalau kartun dan anime itu SAMA, seringnya menggunakan kosa kata anime. Ya sekeliling gue demen Jejepangan semua. Nggak ada masalah kalau gue nyebutnya anime. Tapi akan bermasalah ketika gue memakai kosa kata anime kepada orang yang nggak ngerti. Nenek gue gitu misalnya. Pun, misalnya lagi ngobrol ama orang Jepang terus nyebutnya cartoon. Cengo yang ada mereka. Yang ada malah ngira gue sok bisa bahasa Inggris banget....

Jadi plis banget.... Kaga usah ngegas, apalagi bikin teori sendiri (kasus cartoon dari kata character dan toon) ketika ada normies yang nyebut anime sebagai kartun. Ya emang di bahasa kita mah disebutnya kartun. ==a

Tapi malah gue yang ngegas tiap liat orang komentar kalau anime dan kartun itu beda...

Bus Tour: Ibaraki


こんばんちわ♪

Minggu lalu ada bus tour dari kantor ke Ibaraki. Gue sebenernya jaraaaang banget ikutan event kantor, tapi karena lagi ada pegawai dari kantor cabang Jakarta dan mereka agak dipaksa untuk ikutan bus tour, jadi lah gue ikutan juga buat nemenin mereka. Kebetulan juga salah satu tujuan bus tour kali ini ada yang menarik.

Tempat menarik yang gue maksud adalah tujuan pertama, yaitu Warp Station Edo. Dari dulu pengen banget ke sini karena banyak drama atau film yang syuting di tempat ini. Memang menarik tempatnya. Saking real-nya ampe kayak perkampungan yang ditinggal ama warganya atau perkampungan zombie. Rumah-rumahnya yang mungkin perkampungan orang biasa, bukan samurai atau tuan tanah maksudnya, rumahnya tuh kayak mau rubuh. Kumuh banget. /woy!


Ada yang merasa familiar dengan pemandangan di atas?

Itu poto ambil angel-nya ngotot banget supaya nggak keliatan pager-pager modern. Biar suasana jadulnya nggak rusak gitu~ Tapi hasilnya malah kayak apaan tau, nggak jelas ==a

Selain area pemukiman, ada juga area istana dan taman ala Jepang. Ada juga gerbang yang kalo di film-film sih biasanya dipakai jadi gerbang masuk ke Edo gitu. Terus penjaga gerbangnya melihat ada musuh di kejauhan, "musuh sudah dekat! Segera tutup gerbangnya!!" Langsung mengkhayal gitu liatnya haha. Taman Jepangnya juga bagus.


Selain itu suka ada pertunjukan ninja? Pegulat meksiko yang pake topeng-topeng ngga jelas? Sekitar dua itu lah. Terus pas lagi bus tour itu kayaknya ada idol local yang lagi promosi di sana. Apa lagi ada event yak... Entah lah. Jajanan juga pastinya ada. Yang sempet gue liat sih taiyaki dan takoyaki. Tapi nggak ada yang gue beli. Lagi nggak tertarik buat jajan.

Di sana gue dan temen-temen gue cuma asik poto-poto gejeh. Beneran deh, absurd banget poto-potonya. Semacam yang pura-pura mau maling di rumah orang. Yankee nyasar ke jaman Edo. Bahkan temen gue ada yang ampe minta poto kayak Gintoki gyahahahahah.

Yang bikin gue bingung, di sana ada Doomo-kun! Gue malah jadi hebohnya gara-gara liat Doomo-kun. Parah dah poto-potonya mah. Semuaaaa orang pada berebut poto di dalam Doomo-kun (?).


Selanjutnya makan siang di.......... Apapun itu nama restorannya. /plak Menunya chirashi sushi~~ Gue milih duduk di counter, biar bisa liat chef-nya menyiapkan chirashi sushi dari dekat. Yappa sashimi tte saikou!! Salah satu jenis masakan ikan yang bisa gue makan, ikan mentah! /woy


Setelah makan siang, rombongan berangkat ke winery. Harusnya sih gue nggak salah sebut namanya. Tempatnya menarik, tapi karena lagi musim gugur ladang anggurnya kayak yang nggak asik gitu haha. Di dalam gedungnya ada kayak museum kecil mengenai sejarah wine di Jepang, juga sejarah tentang winery itu sendiri. Ada juga alat-alat tradisional untuk membuat wine. Selain juga pastinya ada tokonya.


Selain yang berhubungan dengan wine, ada juga taman bambu dan entah itu bangunan apa ala Jepang. Di sekitarnya ada pepohonan pinus. Indaaaah banget, apalagi pas lagi musim gugur kayak sekarang. Dedaunan yang gugur juga jadi bikin cakep jalanannya. Lumayan banget lama nangkring di sini. Adem banget rasanya. Potonya ada di pembuka post di atas.

Tujuan terakhir adalah Ushiku Daibutsu. Konon kabarnya merupakan patung Budha tertinggi di dunia. Ampe masuk Guinness Record. Tapi sungguh, ketika lo liat patungnya langsung. Ebuset. Gede banget. Sepanjang perjalanan dari tempat parkir bis sampai masuk ke area patuung Budhanya tuh komen gue sama. "Gede banget." Berkali-kali. Ampe temen gue empet dengernya. Atuh beneran gede banget.


Liat dah. Ampe ukuran image yang gue pakai untuk blog ini aja kaga cukup pas. Asli dah, gede banget. Segede-gedenya banget. Nggak ada komen lain selain gede banget.

Tapi kayaknya kalau mau ke sini lebih bagus pas musim semi. Banyak bunga-bunganya. Kalau pas musim gugur kayak gini sih..... Dingin doang orz. Dingin banget sumpah. Anginnya kenceng pula.

Begitulah.

Apanya!

Post kali ini kebanyakan poto haha. Atuh lah, yang menarik hati cuma Warp Station Edo. Itu pun pas bener-bener ke sana, ya gitu.... Cuma poto-poto gejeh nan absurd. Jadinya emang kurang ada yang bisa diceritain. Intinya sih, post ini cuma buat pamer poto doang haha.

Hello November


こんばんちわ♪

Tidak terasa tahun 2017 hanya tersisa kurang dari dua bulan! Cepet banget. Gue bahkan kayak nggak gitu ngerasain musim gugur, tau-tau udah musim dingin aja. Apa aja yang udah lo lakukan selama sekitar kurang lebih 10 bulan terakhir? Kalau gue, menargetkan untuk membaca seluruh komik dan novel yang ada. Alhamdulillah sih, tinggal satu novel lagi yang sedang dibaca. Setelahnya ada buku Harry Potter - A History of Magic. Pasti bakal butuh waktu lama banget buat kelar baca buku itu.

Well, di post kali ini gue pengen cerita kisah ketika temen dari Indonesia sedang jalan-jalan di Jepang. Karena dia datengnya pas banget lagi long weekend, jadi gue bisa nemenin dia main selama di Tokyo.

Pertama-tama dia minta ditemenin ke sebuah toko stationary bernama Tools yang berada di Shinjuku. Ada brush pen yang lagi dicari ama temen gue yang memang demen ngomik.

Saat itu gue nggak kepikiran untuk ngambil potonya, tapi tokonya itu kecil. Meskipun kecil mampu bikin mata berbinar-binar bagi yang doyan menggambar terutama ngomik. Copic berjejer buanyaaaaaaakk sekali. Gue pun hampir aja khilaf kepengen beli brush marker, tapi untungnya masih bisa menahan diri karena harganya mahal sekali u_u

Dari Shinjuku kita bertolak ke Okachimachi untuk makan ramen halal. Di Jepang, muslim nggak bisa sembarangan makan ramen karena makanan satu ini udah dijamin keharamannya wakakakak. Jadi lo harus ke warung ramen halal. Kali ini gue dan temen gue meilipir ke Ayam-Ya. Lokasinya nggak gitu jauh dari stasiun JR Okachimachi.

Sesuai nama warungnya, ramen yang disediakan memakai kaldu ayam. Harganya relatif standar sih, 800-an Yen. Menu selain ramen juga ada, tapi gue nggak gitu inget ada apa-apa aja. Haha. Yang pasti, sangat disayangkan tidak ada gyoza di warung ramen ini. Padahal ramen dan gyoza itu kan best match. Racun Build mulai masuk ke dalam kehidupan sehari-hari.

Ramen yang tersedia ada dua, shoyu ramen dan shio ramen. Selain ramen yang biasa (?) ada juga tsukemen, tipe ramen yang mi dan kuahnya terpisah. Cara makannya, mi dicelupkan ke kuah kayak lagi makan martabak telur dicelupkan ke sausnya (?). Absurd kan penjelasan gue muhahahah.


Temen gue pesen yg shoyu ramen, sedangkan gue pesen shio ramen. Kita berdua pesen yang rasa kaldunya lebih kuat (noukou). Biar kata rasa kaldunya kental, tapi rasanya tetep ringan dan nggak bikin eneg kayak paitan soup. Untuk porsinya sih, normal. Senormalnya porsi ramen di Jepang, GEDE. Dijamin bikin kenyang.

Gue pribadi lebih suka Ayam-Ya dibanding Narita-Ya yang ada di Asakusa.

Selanjutnya rada bingung antara ke Yokohama atau Enoshima. Dua-duanya sama-sama menyenangkan. Hanya saja, kalau dilihat dari waktu reservasi makan malam, yaitu jam tujuh malam, Enoshima agak terlalu memakan waktu. Lebih aman kalau jalan-jalan ke Yokohama. Tapi ya, berhubung temen gue ini juga doyan jajan, berangkat deh ke Enoshima haha. Tabe-aruki time!!

Di Enoshima nggak gitu lama sih. Cuma menikmati beberapa jajanan doang. Tapi karena sekarang udah musim gugur, jadi malamnya itu cepat. Jadinya kita kebagian liat pemandangan Enoshima di malam hari. Keren banget lampu-lampunya, mau yang di pulau, maupun di sepanjang pantai Shonan.


Terakhir, kita ke Shibuya untuk makan malam. Gue udah reservasi tempat di restoran Hanasakajisan, restoran shabu-shabu. Restoran ini menyediakan menu halal dengan daging sapi Miyazaki Wagyu yang lezat itu. Kita pesan paket yang 4500 Yen. Beneran deh, bega banget.

Honestly, untuk lidah orang Indonesia, makanan Jepang semahal apapun mungkin akan terasa biasa-biasa aja. Kenapa? Karena makanan Jepang tuh kurang bumbu! Enak sih, tapi asa ada yang kurang. Contohnya shabu-shabu ini. Cuma pakai kaldu doang. Udah.

Dagingnya sih nggak usah ditanya, UENYAK BANGEEEEETT!! Dagingnya tuh lembut banget. Sisanya bagi gue biasa-biasa aja, kecuali sashimi dan tempura jagung. Rasa manis jagungnya nggak biasa. Jauh lebih enak dan manis dari jagung manis pasaran.

Uniknya, kita ditawarin mau pakai cabai dan bawang putih atau nggak untuk campuran kaldunya. Kita pilih pakai cabe doang. Jangan dibayangin jadi pedes ya. Bahkan nggak ada rasa cabenya sama sekali. Nah, yang lebih unik lagi, ada cabe di saus shashimi. Jujur, aneh makan sashimi dengan tambahan rasa langu cabe. Bukan rasa pedas ya.

Untuk ikan bakarnya, bagi gue yang nggak doyan ikan masak, ya rasa ikan. /plak Tapi nampaknya, ikan bakarnya ini enak menurut temen gue. Gue pribadi cukup suka pas motong ikannya pakai sumpit, dibakarnya tuh ampe kulitnya garing, jadi ada bunyinya haha. Tapi bagaimanapun juga, ya ikan bakar. IKAN. Gue nggak doyan ikan.

Poto makanannya sebenernya ada... Tapi di hape, dan hape gue lagi rusaaaaakkk T_________T Baru bisa benerin atau beli barunya nanti pas akhir minggu u_u

Hari berikutnya gue nemenin dia jalan-jalan gejeh di stasiun Tokyo dan Odaiba.

Di stasiun Tokyo, gue ajak dia ke Depa-Chika yang ada di lantai bawah tanah stasiun. Di sana banyak toko oleh-oleh, dari yang mainstream kayak makanan dan cemilan, sampai toko-toko racun yang sanggup bikin duit lu abis dalam sekejap. Temen gue pun kemakan racun Ghibli pas masuk toko Donguri Kyowakoku yang merupakan toko official yang menjual goodies Ghibli.

Sedangkan gue? Abis main gacha Build. Yeah! Yang penting udah punya full bottle panda!!

Dari stasiun Tokyo, kita jalan ke Odaiba. Pas nyampe sana, kebetulan banget lagi ada kontes Soran Bushi. Gue terpana dengan bendera-benderanya yang gede banget itu. Dan karena sedang ada kontes kayak gini biasanya ditemani pula dengan berbagai jajanan kaki lima haha. Cuma beli Gyutan Stick doang sih, karena yang lain makanan berat yang sekali makan lo kenyang. Jadi nggak bisa makan banyak kan kalo gitu~

Setelah merasa puas menggejeh di Taman Seaside Odaiba, kita melipir ke toko Fuji TV. Lagi-lagi ngeliat racun-racun dari berbagai kartun yang tayang di Fuji TV, kayak Ansatsu Kyoushitsu, Dragon Ball, Dr. Slump, dan One Piece. Nggak lama-lama banget sih di Fuji TV, karena tujuan utama ke Odaiba untuk liat patung Gundam yang terkenal itu.


Well, yeah. Gue bukan penggemar Gundam. Gue cuma bisa berkata, "wogh! Keren!" Begitu liat patung Gundam yang konon katanya ukurannya itu 1:1. CMIIW. Sembari nunggu temennya temen gue (temen gue ini jalan-jalan ke Jepang berdua dengan temennya), kita poto-poto gejeh ala turis. Maklum, norak ngeliat patung robot segede gaban, meskipun ini bukan Gaban.

Ada yang ngerti nggak tuh? XD

Setelah mereka akhirnya bertemu, kita ditarik ama temen dari temennya temen gue yang orang Jepang (yo men, temenception) untuk cuci mata di Odaiba Icchome Shoutengai yang ada di dalam gedung Odaiba Decks. Tempat ini dibikin seperti daerah pertokoan di jaman Showa. Retro-retro edgy gimana gitu deh~ Banyak dijual jajanan yang bikin nostalgia nggak hanya untuk orang Jepang, tapi kita orang Indonesia pun juga pasti kebawa nostalgia ke jaman SD.

Menarik banget deh pertokoan retro ini. Lain kali gue coba ke sana untuk ambil poto-poto dan bikin post khusus karena pas ke sana bareng temen gue ini teh batre kamera gue udah melemah u_u Jadi nggak ada ambil poto. Tempatnya ketjeh banget padahal.

Btw di sana gue sempet ketemu ama emak-emak norak nyebelin. Gue yakin banget mereka orang Indonesia karena setengah menghardik gue, "awas dong mbak!" ketika gue lagi liat-liat boneka pokemon. Kayaknya mereka mau poto di situ tapi ada gue yang mengganggu keestetikaan poto mereka. Mau poto mah ya bilang aja baik-baik. Nggak usah pake nyolot. Udah ada duit bisa jalan ampe ke luar negeri, tetep aje bertindak sesuka hati. Udah kayak Sungokong.

Selepas dari sana, udah harus balik ke dunia nyata. Temen gue udah harus cau ke bandara untuk pulang ke tanah air.

Lumayan banget lah hiburan selama dua hari. Dua hari capek jalan. Dua hari kenyang makan. Buhahahahaha.

Autumn Tour Day 3 Fushimi Inari & Shoseien


こんばんちわ♪

Butuh waktu lama untuk update kisah hari terakhir selama liburan di Kyoto. ORZ. Jadi, ada satu kejadian menyebalkan di hari terakhir dan gue tuh setiap inget itu jadinya selalu mengumpat-umpat. Padahal gue sedang berusaha untuk jadi orang baik.... cih! Kalau-kalau ada yang baca, dipersilakan untuk muntah.

Hari terakhir di Kyoto, gue jalan-jalan ke Fushimi Inari dan Shoseien.

Bentar, iklan dulu....

Duh, sungguh, gue ngetik ini sambil nonton Osama Game. Chaos abis ==a Bikin nggak fokus...

Okeh, jadi rencana gue di hari terakhir itu jalan-jalan gejeh di Fushimi Inari. Di salah satu post gue pernah bilang kalau gue nggak tertarik dengan kuil-kuil yang bentuknya sama semua itu hahaha. Tapi gue lumayan suka ke kuil terutama yang jadi tujuan wisata karena biasanya banyak jajanan di sana. Hahahaha. Tabearuki inochi!! Tapi berbeda ama Fushimi Inari ini, karena setidaknya dia ada pemandangan yang berbeda dari kuil-kuil kebanyakan yaitu seribu gerbang yang berjejer itu.

Hal pertama yang gue cari adalah koin loker. Kenapa? Karena dari sana, gue langsung pulang ke Kawasaki. Jadi gue harus cari tempat buat naro koper. Awalnya pengen ke stasiun Kyoto dulu naro koper, terus baru ke Fushimi Inari. Tapi sungguh, lagi nggak ada duit jadi 100-200 tuh berharga banget. Untuk menghemat, gue lebih milih penginapan - Fushimi Inari - stasiun Kyoto.

Gue udah nyari tau info mengenai koin loker di stasiun Fushimi Inari maupun stasiun Inari. Koin loker yang gede dikit banget broooh~ Dan pastinya karena itu teh tempat wisata yang selalu ramai, lokernya udah keburu penuh orz. Untungnya di deket stasiun Inari ada tempat penitipan barang. Biayanya 300 Yen. Jadi koper gue bisa gue titip di sana selama gue jalan-jalan. Udah gitu hemat 200 Yen haha. Karena biaya loker yang gede itu 500 yen.

Setelah gue titip koper, yang pertama kali tertangkap pandangan adalah toko mitarashi dango. WOHHOOOOOOO!! Gue doyan banget ama mitarashi dango. Tanpa pikir panjang, langsung beli lah ya. Selain untuk liat-liat si seribu gerbang itu, tujuan gue ke Fushimi Inari adalah tabearuki! Sungguh, makanan pertamanya mitarashi dango. Start yang lezat sekali~ Bener-bener beda banget ama mitarashi dango konbini yang biasa gue beli. UENYAAAAAKK!!!

Setelah itu gue menuju si kuil. Mata gue udah jelalatan aja liat banyak makanan. Saat itu gue masih bingung mau makan apa dulu. Terlalu banyak pilihan! Takoyaki, karaage, yakitori, kakigori, dessert maccha, soba, udon, donburi, blahblahblah. Begitu banyak pilihan di tengah-tengah uang yang sangat sedikit. Apa yang harus gue lakukan?

Well, akhirnya pilihan pertama gue jatuh kepada wagyu stick. Salah satu jajanan favorit gue kalau lagi jalan ke Osaka atau Kyoto, sate daging sapi jenis wagyu. Harganya 500 Yen. Nah, di sini nih. Kejadian hal paling menyebalkan yang bikin gue untuk pertama kalinya nyumpahin orang yang jelek-jelek dalam hidup gue. Ibadah gue kurang oke kali ya ampe nyumpah-nyumpahin orang. Sampai sekarang pun kalau keingetan tuh, masih menyimpan rasa dendam yang sangat teramat dalam.

Begini ceritanya. Gue beli wagyu stick dengan pecahan uang 1000 Yen. Gue kasih uangnya, si penjual kasih dagingnya, kemudian dia melayani pembeli lain. Ngeh nggak ada yang aneh? Gue belum dikasih kembalian.

Jadinya ya gue minta dong, "Bang kembaliannya belum." Lo tau apa jawaban si pedagang sialan itu?

"知らん。"

"Nggak tauk."

KAMPRET BANGET KAN?!!

Gue jelasin baik-baik kalau tadi gue bayar pake uang 1000 Yen, dan belum dikasih kembaliannya. Si pedagang bangsat itu tetap jawab kaga tau. Kan bikin emosi. Gue tetep ngotot, karena uang gopek tuh berharga banget meeeenn!! Apalagi keadaan keuangan gue saat itu bener-bener lagi mepet banget. Tapi dia tetep jawab kagak tau, udah kagak inget, ampe-ampe dia malah nanya, "emang lo siapa sih?" EBUSET NGAJAK RIBUT!!!! Terus dia bilang ke gue kayak gini, "lo tau nggak udah berapa kali gue ditipu kayak gitu ama orang-orang kayak lu?"

Oh.

Jadi gue dikira penipu ama dia.

ASDFGHJKL!!!!

Makin emosi lah gue. Die yang lupa ngasih kembalian, ngapa jadi gue yang dituduh mau nipu ==a

Sempet terjadi adu mulut antara gue dan si pedagang bangsat itu. Dan dia tetep bilang kaga tau. Well, gue nggak peduli mau dia sering kena tipu kek atau apa kek, gue cuma mau duit gue. Tapi dia tetep ngotot kaga tauk. Akhirnya gue balikin aja itu daging. Makan tuh duit 1000 Yen yang bukan hak lo!! Gue ampe apal ama mukanya. Dan bersumpah, kalau gue ada kesempatan ke sana lagi, dan dia masih aja jualan wagyu, bakal beneran gue tipu! Gue beli satu, tapi pas dia ngasih dagingnya gue bakal bilang kalo gue tuh beli dua. Penasaran, dia bakal inget nggak gue ngasih duitnya berapa.

Emosi, mood gue udah keburu jelek. Gue jadinya cuma liat-liat sekitar depan gerbang kuil doang. Sembari nyumpahin pedagang bangsat itu biar diikutin dewa kemiskinan seumur hidupnya atau nggak sesegera mungkin dapet karma hari itu juga.


Pas turun ke bawah, berusaha untuk mengembalikan mood gue yang udah ancur lebur, gue beli sate kepiting. Enyak. Abis itu beli beberapa jajanan yang lain. Enyak. Makan es serut yang esnya itu dari sari buah asli. Enyak banget dan adem. Nggak mau lama-lama di sana, ya udah deh gue langsung ke stasiun Kyoto aja. Mumpung masih ada waktu, gue bisa jalan-jalan gejeh dulu ke Shoseien, taman ala Jepang yang satu bagian dari Higashi Honganji tapi ada di komplek yang berbeda. Di hari kedua kan gue nggak bisa ke sana tuh karena nggak ada waktu.


Seperti yang udah gue jelasin di post sebelum ini, Shoseien ini bekas tempat tinggal salah satu keluarga kaisar. Sekarang sering dijadikan tempat untuk upacara minum teh. Ada sekitar empat tea house di taman ini. Tamannya sendiri luaaaaass banget. Pastinya juga indah banget.

Taman ini bisa dinikmati di berbagai musim. Kalau musim semi, lo bakal menikmati pemandangan bunga sakura mekar di mana-mana. Sedangkan di musim gugur, lo bisa liat pemandangan pepohonan yang menguning untuk kemudian gugur menyambut musim dingin. Sayangnya waktu itu tuh baru aja selesai musim panas, baru mau masuk musim gugur. Jadinya kayak nanggung gitu. Cuma bisa menikmati pemandangan hijau yang menyejukkan hati.

Mayan kan tadi hati gue super panas kebakar amarah.


Salah satu spot yang menarik perhatian gue adalah jembatan ini. Namanya Kaitourou (回楨廊). Katanya dibangun untuk menikmati Tsukimi. Kalau musim gugur pasti indah banget deh momiji-nya...

Selain itu yang menarik adalah tea house di atas bukit kecil. Ngeliatnya jadi kepengen bikin fanfic dengan karakter utama yang tinggal di sebuah rumah ala rumah tradisional Jepang kayak tea house itu. Wakakakakak. Asa tenang banget kalau tinggal di tempat kayak gitu.


Enak banget nyantai di taman ini. Yah, akan lebih bagus lagi kalau datengnya pas lagi ada bunga yang mekar atau momiji. Musim dingnin juga kayaknya bagus dengan salju di antara ranting pepohonan. Kurang tau juga sih Kyoto pas musim dingin tuh kayak gimana. Kalau Kawasaki dan Tokyo kota kan jaraaaaaang banget saljunya.

Oh, gue lupa bilang biaya masuk Shoseien ini 500 Yen. Bukan biaya masuk sih, kayak semacam donasi gitu untuk merawat keindahan taman.

Begitu lah kira-kira liburan gue di Kyoto dan USJ. Saran gue, kalau lagi jajan jangan lupa minta kembalian dulu. Kalau nggak nanti lo dikira penipu wakakakakakakak. Pedagang bangsat.

Autumn Tour Day 2 Kyoto - Shiga


こんばんちわ♪

Lanjutan post sebelum ini. Di hari kedua ini gue berpetualang ke Kurumazaki Jinja, Higashi Honganji dan Hachimanbori Matsuri.

Pertama-tama Kurumazaki Jinja atau yang juga terkenal sebagai Geinou Jinja. Kalau dari yang gue lihat pas ke sana, sepertinya ini tuh semacam komplek dari berbagai kuil-kuil kecil. Banyak banget tempat yang kayak untuk berdoa itu di berbagai sudut area Kurumazaki Jinja. Salah satu yang paling terkenal adalah Geinou Jinja. Banyak artis yang berdoa ke sini untuk kesuksesan karirnya, kemudian dibuatkan plakat nama mereka dan dipajang di area kuil.

Jadi, udah ketebak kan tujuan gue ke kuil ini untuk apa? =))

Kuil ini letaknya di Arashiyama. Untuk ke sana, ada dua cara. Naik bis (halte Kurumazaki Jinja-mae) atau kereta (stasiun Kurumazaki Jinja). Sedangkan gue lebih memilih untuk naik kereta. Secara saya mah anak kereta tulen.

Nama line-nya Keifuku Arashiyama Honsen (京福電気鉄道嵐山本線) atau biasa disebut juga dengan Randen (嵐電). Saat itu gue naik keretanya dari stasiun Randen Tenjingawa (嵐電天神川). Untuk menuju stasiun Randen Tenjingawa ini, salah satu stasiun terdekatnya adalah stasiun Uzumasa Tenjingawa (太秦天神川). Keretanya ini tuh bener-bener tipe kereta lokal yang cuma ada dua gerbong.


Baru pertama kali ini gue naik kereta tipe ini. Nggak ada gerbang kayak stasiun biasanya. Lo bayarnya pas mau turun di dalam kereta. Ada kotaknya gitu. Tarifnya 220 Yen. Bisa dibayar dengan uang tunai atau kartu. Tapi harus uang pas ya. Nggak menerima kembalian.


Stasiun Kurumazaki Jinja ini berada tepat di depan gerbang kuil. Tanpa ba-bi-bu, gue segera berkeliling kuil demi mencari nama-nama artis yang gue kenal terutama dari Haropuro. Eh, yang pertama kali keliatan di mata malah nama si kuda Kawai XD Gue kagak nemu nama bocah Jonis lagi selain si kuda. Kuda ada di mana-mana yak... Abis itu macem-macem deh, ada Greeeen, juga Whiteeeen. Terus sempet ada dua kakak-beradik berurutan, Nishiwaki dan Taira. Pastinya nama A-chan ditulisnya A-chan, bukan nama aslinya =))

Setelah itu gue nemu beberapa nama lain kayak Urata Naoya, Suzuki Fuku, dan Mao-chan (Seiyuu, Gokai Yellow). Bahkan ada CLAMP lho!! Yang menarik, ampe ada Watanabe Entertainment. Satu agensi sekaligus broh~ Ada juga yang namanya dobel XD Entah emang bisa masang dua plakat, atau orang kuilnya yang alpa. Poto-potonya bisa dilihat di Instagram. Tapi akunnya di-private hahahaha


Nama-nama artisnya berjejer di tembok merah itu. Sialnya gue cuma nemu satu doang idol Haropuro. Itu pun Kenshusei. Usut punya usut, harusnya ada nama Ai-chan dan Nomura-nya Kobushi, tapi gue nggak nemu. Sedangkan punya Berryz udah nggak ada T_____T Mungkin karena udah bubar. Jadi nggak dipajang lagi.

Setelah ngepengirling di Kurumazaki Jinja, gue melipir ke stasiun Kyoto. Apapun yang ada di sekitar situ deh pokoknya. Awalnya tuh gue mau ke museum komik lagi, tapi karena hari itu tutup dan gue nggak ada tujuan lagi, jadi lah muter-muter gejeh aja di daerah sekitaran stasiun Kyoto. Mengisi waktu luang sebelum pergi ke Hachimanbori Matsuri yang diadakan di malam hari. Selepas mengganjal perut di McD, gue menemukan sebuah kuil bernama Higashi Honganji.


Kuilnya ini gedeeeee banget! Gerbangnya aja astaga, besar dan megah banget. Katanya sih kuil inti dari Shinshu Otani-ha dan merupakan kuil? Struktur? Denominasi? Agama Budha terbesar di Jepang. Pengunjung diperbolehkan masuk ke dalam kuil ini, sehingga kita bisa liat dari dekat detil-detil konstruksi bangunannya. Dalam ruangannya pun megah banget dan suasana khusyuk. Dilarang untuk berisik di sana. Well, iya lah ya. Rumah ibadah namanya juga.

Gue sendiri puas banget bisa liat berbagai detil dari kuil ini. Bangunan kayu yang konon katanya sudah berumur ribuan tahun. Nggak pernah nggak bisa untuk takjub ngeliatnya.


Megah banget kan? Selain kuil ini, ada juga taman ala Jepang yang letaknya agak terpisah dari komplek Higashi Honganji. Tinggal menyebrang dan melewati beberapa blok, sampai deh di tamannya yang bernama Shoseien. Katanya sih itu tuh bekas tempat tinggal salah satu petinggi di jaman kepemimpinan Tokugawa Ieyasu. Lahannya sendiri merupakan hadiah dari Ieyasu. Sayangnya saat itu gue udah harus berangkat lagi ke Shiga-ken untuk melihat Hachimanbori Matsuri aka Festival Lentera Hachimanbori.

Shiga-ken sesungguhnya nggak jauh-jauh amat dari Kyoto. Sekitar 40 menit naik kereta. Iya, waktu tempuhnya sih cuma 40 menit. Tapi sungguh yang gue rasakan saat itu adalah JAUUUUUUHHH!!! Ampe kayak takut nyasar begitu ngeliat pemandangannya bener-bener kampung.

Untuk menuju festival lentera ini lo harus naik bis di halte nomor enam jurusan Chomeiji (長命寺線) dari stasiun Oumi Hachiman (近江八幡) pintu utara. Turunnya di halte Shinmachi (新町). Untuk menikmati festival ini lo harus memperhatikan jadwal bis, karena bis di malam hari itu jaraaaang banget. Udah gitu bis terakhir tuh biasanya sebelum jam sembilan malam udah nggak ada. Jangan lupa juga siapkan uang pas. Seperti biasa, tidak menerima kembalian dan juga nggak bisa pakai kartu.


Meskipun jauh banget, worth it sekali dateng ke festival ini! Cahaya lenteranya indaaaaaaah sekaleeeeeehh. Daerah bernama Hachiman ini dihiasi berbagai macam lentera. Dengan suasana ala desa jaman dahulu kala, jadinya tuh seakan-akan sedang berada di negeri dongeng.

Ada mini concert juga. Tahun ini sih ada solois wanita ngebawain lagu-lagu Ghibli dan duo pria bawain lagu-lagu pop. Suara duo prianya itu bikin merinding. Bagus banget! Ditambah suasana pinggir sungai dengan pencahayaan seadanya dari lentera-lentera yang menghiasi pinggir sungai. Jadi kayak romantis-romantis gitu

Terus di sungainya itu dialiri lagi lampu-lampu kecil. Kalau dilihat dari atas jembatan, jadi kayak langit berbintang! Milky way!! Cantik banget deh pokoknya. Sedangkan di dekat halte, ada bermacam-macam lampion unik yang dibentuk kayak patung-patung. Ada juga hiasan dari payung-payung yang dipajang sedemikian rupa sehingga menambah citra khas kebudayaan Jepang.

Denger-denger, Hachiman ini salah satu tempat syuting film Rurouni Kenshin. Bagian sungainya sih yang paling gue inget.


Yang namanya matsuri nggak akan lengkap tanpa jajanan khas matsuri. Seperti biasa, dari takoyaki sampai yakitori tersedia di festival ini. Yang menarik perhatian gue adalah ikan Ayu bakar. Ikan Ayu tuh terkenal enak banget. Udah gitu karena sekarang lagi musimnya, jadi banyak yang pergi kemping, kemudian memancing ikan ini di sungai. Jadinya tuh lagi sering banget diliput di acara tipi.


Udah gitu dibakarnya ala-ala tradisional Jepang! Tenshion agaruuu~~ Ngeliatnya doang tapi, bukan makannya. Gue nggak makan ikan masak kecuali fillet dengan ikan yang dagingnya penuh dengan lemak, misalnya fillet ikan dori. Ditambah lagi itu yang jualan om-omnya kocak banget dah XD Pas ngeliat ada gaijin motoin dagangannya, dia berseru "HASHTAG!! HASHTAG SHIGA!!" Ngakak dah XD Abis itu jadi ngobrol-ngobrol gejeh. Kata dia, "ayo promosiin ke seluruh dunia! Ikan Ayu!!" BWAKAKAKAAKAKAK!!!! Terus juga dikasih penerangan buat poto, biar jelas katanya LOL. Kocak banget dah~

Begitu lah kira-kira pengalaman di hari kedua long weekend saya. Next hari terakhir, di Fushimi Inari. Kali ini ada pengalaman kurang mengenakkan....